Semoga aku bisa dewasa…

Posted: Januari 13, 2011 in Goresan senyumku

diary, hari ini berlalu cukup melelahkan itu hal biasa. die, ada yang aneh dengan perjalanan hari ini ada yang ganjil. seperti biasanya aku puasa senin dan mengeja tiap langkah yang kutapaki. rumah ke Paud dan rumah kekampus, hidupku keras die. meski hatiku lembut, tapi kau harus tau perjalananku keras. seperti mengulang masa laluku die, saat aku harus mempertahankan sekolahku pada tiap bungkusan es lilin buatan ibu. tak hanya itu die, kau juga harus tau seberapa sering aku menitihkan luhku saat ribuan kilo beban ibu berayun dikepalaku, aku tak sanggup menyelesaikannya. aku hanya bisa mencari formula untuk menenangkan dan menguatkan ibu die. hari ini tak separah kemarin memang, tapi apa kau tau die hari ini ada statment yang begitu menyudutkanku.

“Saya kecewa dengan tindakan kamu wik.” kata salah seorang teman yang aku pikir seperti kaka bagiku,

” Kecewa kenapa bang? tindakan yang mana?” aku tegaskan dimana letak kekecewaan abang padaku.

” Temui saya dikampus jam 2.30.” jawab smsnya singkat.

” Saya tidak mau, jika kamu tidak memberikan alasan yang tepat dan masuk akal bang.”

tak ada reaksi lagi, sore mengantarkanku pada ribuan meter korem – untirta. sore ini suram ronanya, die kau tau kenapa? hemm pasti kau tak tau karena akupun tak tau? bahkan aku sendiri tak paham kenapa hari ini aku tak serenyah kemarin. dosen pertama ga masuk, itu dah biasa dan sepertinya menu tiap minggu. perutku sakit die, tak biasanya seperti ini. suasana hati yang sedang kacau dan aku tak tau harus bagaimana. ingin mengadu tapi pada siapa die? ka wian? yah sosok yang akan memberikan ide bagaimana mencari jalan keluar saat aku terhimpit. respon ka wian yah seperti biasanya sedikit menenangkan, tapi tak mengubah sakit dan suasana hatiku sore ini. aku sudah hampir menangis, sempat aku kirimkan sms pada fikry.” aku pengen nangis.” respon fikry ” kenapa?”
“Esmosi jiwa.” begitu jawabku. dan aku tangguhkan luhku sesaat karena aku tak ingin semestaku berubah iklimnya karena luhku menetes.

jam 17.45 setelah jam ELS selesai aku putuskan untuk kumpul sejenak di Lab. Kejujuran. aromanya getir… tak seperti biasanya. dan firasatku menjawab semuanya, abang marah padaku. mungkin ini memang salahku, walau tak sepenuhnya.

” Saya sudah sms km td pagi, kenapa ga konfirmasi jika tidak bisa. Semnas tinggal 2 minggu lagi, surat belum bisa dimintakan ttd ke pak aris. kalau sore begini kan tidak bisa.” yah kurang lebih begitu statment awal menyambut kedatanganku dengan teman2.

” saya kecewa, dan bla… bla … bla… ”

die, kamu tau apa yang bisa aku lakukan? aku pikir mereka dan abang cukup paham dengan rutinitas pagi yang tak bisa aku tinggalkan ‘ngajar’ tapi itu bukan alasan yang tepat hari ini. aku hanya diam dan mencoba menghimpun kekuatan untuk bangkit dan segera keluar. aku menahan luhku dihadapan mereka, teman – temanku. padahal sedari tadi siang aku sudah berusaha menahan sakitku, menahan galaunya hatiku untuk tidak menangis tapi aku tak bisa die. aku segera beranjak dari tempat dudukku.

” Wik, mau kemana?” tanya abang ketika melihatku berdiri

” Pulang … ” jawabku sambil menahan isak.

aku tak langsung menangis die, aku mencoba menguatkan hatiku. namun aku manusia, aku wanita, dan aku punya rasa. aku sakit hati die. kulampiaskan tangisku di ruangan di samping UKM Kaffe Ide, Pramuka yah kembali pada dari mana aku mendapati keluargaku. pelukan resti menghalau luhku walau sejenak, memang aku tak pernah menangis sebelumnya.

” Aku tau sekarang, ternyata kau wanita, wik… menangislah dan luapkan semuanya” kata ka Naovan saat melihatku menangis.

luapan tangisku masih tertahan dikerongkonganku, sms ka wian menghentikan luhku sesaat. met berbuka … ucapan itu menyadarkanku jika sebentar lagi magrib menghampiriku. rasanya aku sudah lupa pada haus yang menghampiriku siang tadi, dan aku sudah lupa pada lapar yang menjadikanku lemas siang tadi.

die, oom, fikry dan temen – temen menghampiriku di pramuka. aku tak bergeming die, kau tau kenapa? aku tak mau banyak bicara saat emosi karena aku takut melukai lawan bicaraku. abang menghampiriku die, tapi aku masih tertunduk menahan isakku

” Maafkan saya, tak ada niatan untuk membuatmu sakit hati. tadi hanya bercanda.” begitu ungkapnya.

” iah maafkan w2k juga.” setelah itu w2k beranjak lagi ke BEM. bukan karena ada hal yang ingin aku selesaikan, aku hanya tak mau meluapkan emosi ne die. bercanda kata abang? yah lucu ko. bahkan sangat lucu, hingga menjatuhkan aku pada situasi jiwa yang jatuh, Astagfirullah…

die, kau tau aku sering ngawur ngambil keputusan jika sedang emosi kaya gini. makanya aku memilih diam, menunggu redam emosiku.

aku tau pasti abang punya maksud baik dari kata – kata pedasnya tadi. mungkin saja aku belum bisa menerimanya dengan lapang jika aku memang tak bisa menjadi organizatoris yang baek. aku yakin hal ini akan menjadikanku lebih tau kenapa harus aku yang merasakan?

kenapa mesti sakit hati juga jika akhirnya tak akan menjadikan iklim di organisasiku menjadi lebih baek.

– thanks untuk schock terapinya –

die, thanks ia udah mau dengar curhatku.
Kampusku, April 26 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s