– coretan letihku –

Posted: Maret 14, 2010 in Goresan senyumku

Aku lihat wajahmu

 

Aku lihat wajahmu dalam tirusnya aspal

Tersenyum dalam sentuhan titik

Kutangkap bayangmu dalam deretan ornament kelam

Tatapmu dalam goyang ilalang

Lengkung alismu dalam hitam barisan awan

Tawamu getir lemah abang. Basah.

Titik masih memancar

Aku temukan semua pengembaraan panjang

Menuju peraduanku

Armada Jaya Perkasa, 2009

 

Ditanah Basah

Ditanah basah bulan sandar.

Tawa katak, semesta bertanya :

“Kenapa?” nestapa jiwa.

Ruhnya gamang dalam sketsa

Luka sukmaku, menuai buih

Dalam canvas doa.

Bayu mengeja warta cinta

Di atas bongkahan lara

Peraduan bisu, 2009


Endul Gensia

 

Endul Gensia

: Surat penjualan pengampunan dosa

Kilas pekik reformasi gereja. Tak abadi

Jika bumi dapat membelinya.

Sejuta maling akan mampu mendaparkannya.

Mustahil.

Karanganyar, 2009

 

Aku ingin hentikan

 

Seutas kata yang ingin kukatakan :

Aku ingin hentikan kebebasan yang kejam

Menghacurkan seribu tangan pendendam

Biar bobrok negeri umat. Aku tertawa Cuma

Semua maling, tukang sogok

Matilah. Hari ini !!!

Campuradukkan semua masalah

Sikut, tendang, tampar.

Tradisi mutilasi kuhalalkan mulai sekarang.

Karanganyar, Februari 2009

 

Simbok

 

Bersama letih yang kau gendong

Senyum tawarmu mengempis pelan

Kebaya lusuhmu membalut rapuhnya tulang

Kepayahan hari ini tlah kau prasastikan.

Simbok …

Kadang sering kutemukan dalam bayangmu. Pada

Tiap lembaran kertasku

Simbok …

Dalam peluh terik yang membakarmu

Kau sematkan sandi untukku cerna

Simbok …

Kepasrahanmu membuatmu beda

Ketegaranmu mentari untuk langkah duniaku.

Tegalan, Februari 2009

 

Kosong

 

Sendu dalam belantara sukma

Memamah habis liur energi yang kau

Tuangkan dalam mangkuk jiwaku.

Hanya etalase berjamur tersisih diujung

Bilik linglung. Kosong.

Dalam nyeri aku mengeksplotasi letih yang tersisa

Agar lebur kepurbaanku dalam bengismu.

Mojogedang, Februari 2009

 

Aroma tubuhmu adalah lembayung

Caping, arit dan ani – ani itu diam

Aroma tubuhmu adalah lembayung yang siap dipanen

Tegakmu penyangga kelu

Engkaulah angka yang tiap kali menyelinap

Mengagungkan bentan g jamrud di Panggonan

Tanah tegal tlah kau sulap.

Pupuk, hama dan hasil panen adalah biji dadu

Kau timbun bersama harapan.

Caping, arit, dan ani – ani itu bisu.

Saat nafasmu sesak oleh nama.

Urat sarafmu mulai terhempas bayu.

Jejakmu menunggu …

Panggonan sepi sentuhmu

Angka – angkamu tlah habis kau bagikan.

Biji dadu itu tlah kelu

Tak bias hanya tinggal tulang dalam getir harapan.

Tegalan panggonan, Februari 2009

 

Aku Ciptakan Kelu dalam elegimu

Aku ciptakan kelu dalam elegi yang berserakan

Galian tanah abang merayapi potretmu yang

Kosong. Aromamu terkuar tajam dalam jaring

Tropis yang Tuhan ciptakan. Aku punguti

Kisahmu dalam kitab pustaka jiwaku

Penaku nyeri,

Berlari pergi. Melukis elegimu

Enggan. Arogansi tatapmu telah menjajah lembahku

Terendam pesona aslimu,

Ditepi imanjinasiku yang purba

Senyum debumu menghambur mencekikku

Tanpa kata aku melata kelembah baru.

Kampus Biru, Maret 2009

 

 

Bangku 28

 

Halte tlah sepi. Tinggal

Arimbi menjemput ragaku yang ngilu

Halte tlah bisu, hanya bisik sampah

Plastik dan botol air kemasan berdiskusi lirih.

Anyir.

Halte ini terlalu banyak menyimpan elegi

Arimbi menyadarkanku dengan sapaan mesranya.

Kini dibangku 28 aku tersungkur,

Mendengkur, mengukur umur yang

Mulai berjamur.

Halte, Bangku 28 Arimbi 2009

 

Ragaku tanpa Obsesi

Sajak parau menjadikan senandungku yang bisu

Aku tak lagi punya pigmen untuk mengubah layu

Letih ini terasa anyir tanpa tetesmu

Getir ini mendesir dalam balutan pasir

Cintamu. Pelukan penuh sayat yang kau ukir dari kilatan sepi.

Aku terkapar dalam bekunya dimensi, tergeletak

Ragaku tanpa obsesi. Aku

Melangkah pergi, menjauh dar petir yang kau ukir kemarin.

Ciceri, 2009

 

Kau kubayangkan

 

Kau dimataku. Kubayangkan

Bagai malaikat yang terjaga saat dunia terpejam.

Kau dimataku. Kumimpikan

Bagai naluri ibu mengalirkan cinta

Sedang kau disampingku bagai letih

Yang terbalut seonggok kulit yang tak lagi

Perawan. Sedang tatapmu bagai

Elang tanpa haluan. Rintihmu mendesis persis

Diujung keterpanaanku yang kosong.

PKM, 2009

 

Misteri Bunderan Ciceri

 

Lara telah kubayar dengan arogansiku

Tinta telah kuasingkan dalam misteri bunderan Ciceri.

Akan lahir prasasti baru dikaki hinaku. Malu haruskah?

Ragaku yang tegar ini terapung dalam balutan

Sunyi. Tenggelam enggan, menepi tak mungkin.

Misteri bunderan Ciceri itu melahirkan tetesan air

Laut yang berasa manis. Menumpahkan madu dalam lautan

Misteri bunderan Ciceri telah kugendong dalam kepenatan.

Perih telah kubingkai perlahan

Perjalanan baru tlah terkuak dari semua misteri ini.

Ciceri, Maret 2009

 

Emak 

Emak ada sedikit cerita

Yang belum kutuangkan dalam Canvas,

Tentang kisahku di negeri orang.

Emak, sulit bagiku melukiskan letih

Menopang pilu yang menghantamku. Dikota ini,

Waktu adalah mata pisau, tak bersahabat dengan rapuhku

Dikota ini kebengisan menjadi warnaku,

Arogan, hedonisme mejadi topeng manusia disekitarku

Semua jauh dari sinapku.

Emak…kesendirian adalah surga bagiku

Wajah lembayungku ini tak lagi bersinar

Namun, aku tak ingin meneteskan air dari kelopak indahku

Kota ini biarkan menjajah sikap asliku

Esok aku akan berdiri tegar menumpahkan empedu

Yang ada dikantung jiwaku.

Emak secuil doamu tlah membuatku besar kini.

Ciceri, Maret 2009

 

Percintaan pinus

Bayang bukit tinggi dimataku

Tlah robek. Air  disungaiku telah kering.

Mataku jatuh dalam pelukan pekat

Beranda hatiku basah dalam lukisan banyu.

Senandungku itu terkapar jauh dalam.

Angin dalam pagimu telah lenyap

Hanya rintih pinus dalam senyap. Romantis.

Mengeja ansamble kelam dalam bukit Sekipan.

Sekipan, 2007

 

Rani Kecil

Rani kecil yang tak berdosa

Kini terbaring di ubin. Rambutnya yang keriting mengering

Dalam jaring kemarau yang tersaring.

Rani kecil dengan langkah tanpa beban, menapaki

Aspalan penuh hutang.

Bibirnya acap kali nyungir bercerita tentang indahnya hidup

Rani kecil nan polos, harus

Siap mendengar rentetan omelan  rentenir.

Rani kecil sesak, nafasnya tersangkut dalam rupiah

Masa depannya tertaut dalam lembar sertifikat yang tergadaikan.

Kampungku, 2007

 

Kaulah

Di ketapang kutitipkan hati

Kusebrangkan ragaku menyusuri Soka

Memetik kemerdekan yang kejam. Tanah lot indahnya senyummu

Sunset Kuta tirusnya pesonamu

Kutunggu. Irisan jiwaku karam dipersada Kintamani

Hati yang kutitipkan berjalan dalam hamparan Lovina

Membuncah dalam Kecak Janger Dewata.

Kuta, 2006

 

Wajah baru kota dalam nostalgia bocah – bocah

 

Dikota ini hanya amukan angin yang

Melukiskan seribu tragedi. Bocah – bocah antara

Getir, pilu dan sendu.

Hari ini pucat kota bernostalgia

Menyaksikan sejarah yang pernah terjarah. Sekedar

Melepas rindu bocah jalanan yang terlantar

Penyambung waktu yang merampas mimpi mereka

pernah tertorehkan diantara

Dinding – dinding sugesti bocah – bocah telanjang itu.

Lemah abang tempat mereka bermain gatrik telah disulap

Menjadi lemah berkarpet beton dan semen.

Cinta dan tawa mereka pernah ditambatkan dalam pilar

Kota ini. Sekarang waktu telah jauh menuai kilometer yang rancau.

Kota ini telah menulis seribu tragedi dalam purba misteri.

Dan bocah-bocah itu akan bercerita pada rohmu nantinya.

Karanganyar, 2008

 

Tujuh nafas berdegup dalam lelahku

Sunyi yang menghadang dalam lara. Menggusur

Letih dari aspalan. Dari sejengkal

Tanah yang membesarkanku dan lembah

Gersang yang menyisihkan lautan airmata sejarah.

Melayari lautan sunyi jatuh

Dalam palung kesepian

Tujuh nafas dalam degup dan letihku.

Aku lelah.

Serang, 2008

 

Di matamu butir jagung itu menguning

Dimatamu butir – butir jagung menguning. Antep.

Berisi. Matahari memandikanmu dari ini

Dimatamu kutangkap

Setenggok semangat yang tergantung dalam klobot

Jagung yang kau panen.

Februari, 2008

 

 

Musim yang kau ciptakan

Musim yang kau ciptakan. Dalam

Muara jiwaku                                          

Telah melahirkan bunga. Aromanya anyir

Mengundang sejuta tanda ?

Mengapa !

Musim yang kau ciptakan dalam lembahku

Menumbuhkan akar nestapa yang kokoh.

Musim mengubah nuansa bening dalam keruh

Tetes empedu. Kau ciptakan segala musim,

Dalam tembang perjalananku. Sebatas mantra tanpa makna

Mengundang tapi tak mengembalikan.

Menanam tanpa kau tebang

Cilaku, 08 Juli 09

 

0

 

Sunyi.

Sepi.

0.

Berbaur dalam literasi tanpa segi

Senggama huruf terpadu dalam ansamble kata.

Sepi.

0.

Sunyi.

Menata kata untuk klausa

Mengeja tanpa makna.

Serang, Juli 2009

 

 

½

 

Secuil harapan yang acap kali

Kau sisipkan dalam bongkahan sampah.

Kini memaksamu untuk terus mengeja tembang

Gunduk basah ribuan ton sampah

Menyimpan ½ kisah yang kau tanam dalam.

Hingga anyir aroma yang sering melintasi

Hidungmu, menjadi parfum yang mahal.

Letih, nanar dan airmata

Menguatkanmu menghitung jutaan sampah.

Jerit lambung dan kucuran luh

Anak istrimu memaksa ototmu untuk terus bercumbu.

Sedang ragamu yang tak lagi perkasa

Ingin bersandar walau sebentar

½ harapan yang kau sisipkan

Dalam bongkahan sampah, harusnya tetap berkibar.

Serang, 2009

 

 

Di tanah ini aku mengubur asa

Di tanah anyir ini aku mengubur asaku

Adaku dalam keterasingan telah buram

Hanya letih yang memeluk tiap keadaan

Bertahan atau tenggelam?

Di tanah anyir ini aku memendam jeritku.

Atas jiwa yang tak berruh

Membangun dan menghancurkan

Tiap peristiwa. Ada dan tiada …

Serang, 2009

 

 

Alveolus yang acap kali bergetar

Dalam denting suaramu yang kini padam

Aku menyelaminya, kini keruh

Bahkan beku dan mati tersiram cuka nestapa.

Berkali – kali tangisanku kau mentahkan.

Aku ingin segera tersadar,

Saat cuka nestapa yang kau tuang

Melebihi kapasitas jiwaku. Sekarang …

Mengeja atau stagnan?.

Gemuruh semangatmu kini terkubur.

Bersama seribu asa yang kau beri.

Aku ingin tersadar,

Saat asa itu hanya permainan

Sengaja kau ciptakan.

Mengeja atau segera membaca?

Percuma. Jawabnya

Alveolusku telah terluka.

Cilaku, 2009

 

 

Sosialisasi katamu

Iklan yang acap kali muncul

Bak iklan kecap atau jajan yang tak laku

Sosialisasi katamu

Penghamburan kataku …

April 2009

 

 

Dalam persemian asing

 

Yang kutuangkan pada canvas perjuangan

Kini telah membuahkan dia

Dia yang abstrac untuk kueja

Sulit kuenyahkan, yang menggantikan sejuta

Alveolus yang menata tubuhku.

Dalam persemaian asing yang kutuang pada

Canvas doa

Kini telah mendapatkan jawabannya

Dia akan enyah dari perjuanganku

Dan tak perlu kueja abstraknya

Karena dia telah membunuh sejuta alveolusku

Dalam persemaian asing yang aku bangun

Telah melahirkan paradigma baru tentang dia.

Serang, Juli 2009

 

 

Senandungmu

 

Dalam keterpurukan yang telah tercipta

Kau bersenandung tentang perubahan. Memaksaku

Untuk bisa mengartikannya. Menarikku dengan manja lirikmu.

Meredam bengis dengan bualan. Klimaks …

Ketidakpuasaanku dari 5 tahun kemarin.

Justru kau suguhkan senandung baru

Tentang kegagalan kepalaku menatih tubuhku.

Kau janjikan kepala yang sempurna untuk tubuhku yang tak lagi perawan.

Dalam keterpurukan mentalku, kau suguhkan amplop

Membeli harga diri kami dengan lembaran 50 ribu

Serang, April 2009

 

 

Ditanah ini

Ditanah ini aku mengubur asaku

Adaku dalam keterasingan telah buram

Hanya letih yang memelukku tiap keadaan

Bertahankah?

Atau tenggelam?

Ditanah anyir ini aku memendam jeritku

Atas raga yang tak berjiwa. Yang

Terbangun dan hancur dalam tiap peristiwa

Ada atau tiada

Serang, Juli 2009

 

 

Kau bukan lelaki yang kutunggu

Ternyata aku tau kau…

Cukup dalam tatap liarmu yang binar

penuh nanar yang sering memandang letihku yang terpendar.

Ternyata aku mengenal kau lebih dalam

Hanya cukup 1 jam

Menelaah sikapmu di hadapan

semua menjawab gundahku dalam permainanmu

dan memberikan jawaban
kau bukan lelaki yang kutunggu,,,

Komentar
  1. afrizal mengatakan:

    hmmmmmmm

    bagus … bagus … bagus …

    buat siapa tuh ???? gila banyak banget… berbakat nih buat jadi sastrawan kayak WS. Rendra dan afrizal… hehehehehehehehe

  2. CF Seven mengatakan:

    That was great!!
    i just read some of your poetry!!
    i think it’s just come from deep of your heart!!
    sound nice and simple!!
    but each word is significant!!!
    from the silence of your room you can create that amzing words!!!

  3. rikiromansyah mengatakan:

    coretannya sungguh mengasyikkan..
    bisa jadi Inspirasi neh wiwik..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s